|
Silaturahmi Perbanyak Rezeki
Menurut Ustadz Syahril Mukhtar, alumnus Universitas Al Azhar Kairo
Mesir, orang yang banyak bersilaturahmi maka pintu rezekinya terbuka.
Sebaliknya, orang yang kurang bersilaturahmi otomatis pintu rezekinya
berkurang. ''Jadi, silaturahmi itu adalah salah satu inti dari pada
agama kita baik ditinjau dari segi keagamaan hubungan satu sama lain
ataupun dari segi ekonomi akan memberikan dampak yang sangat luas,''
tandas Ustadz Syahril kepada
Republika Senin (16/10).
Dalam
pandangan Ustadz Syahril, silaturahmi yang paling penting dengan
tetangga karena tetanggalah yang paling tahu persoalan yang tengah kita
hadapi. ''Orang yang paling dulu tahu keadaan kita adalah tetangga,
famili kita mungkin saja care
tetapi
kan
mereka jauh. Orang yang paling tahu keadaan kita di rumah adalah
tetangga. Maka akan sangat menyesal orang yang tidak bisa berbuat baik
kepada tetangganya,'' ujarnya.
Bahkan, sambung Ustadz Syahril, Rasulullah SAW sangat mengecam umat
Islam yang memutuskan tali silaturahmi. Berdasarkan hadis yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun 'alaih), dengan tegas
Rasulullah SAW bersabda: ''Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu
pemutus tali kekerabatan.''
Ia
mengakui, menyambung tali silaturahim yang sudah putus memang tidak
gampang tapi itulah agama kita memberikan dan mengajarkan bagaimana kita
berlapang dada. ''Bulan Ramadhan, merupakan bulan tarbiyah (pendidikan)
yang banyak membinging dan menuntut kita untuk lebih bersikap sabar dan
pemaaf. Kita diajar dari segi iman untuk sabar sehingga orang yang sabar
dengan tetangga, dengan orang yang dihadapi dia akan lebih banyak
mendapatkan rahmat Allah,'' ujarnya.
Guru
Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga
tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Prof Dr KH Said Agil Siraj menegaskan,
menyambung tali silaturahmi merupakan perintah Allah yang harus
dilakukan umat Islam. Agil Siraj kemudian mengutip ayat 21 dari surat
Al-Ra'ad yang artinya: ''Dan orang-orang yang yang menghubungkan apa-apa
yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (silaturahim) dan mereka takut
kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.''
''Jadi
menyambung tali silaturahmi itu sesuai dengan peringah Allah yang
didasari rasa takut kepada Allah dan takut kepada hari hisab
(perhitungan). Kenapa? Karena persoalan yang paling rumit adalah
hubungan sesama manusia," ujarnya.
Bukan
kita ingin meremehkan, kata dia, kalau dengan Allah, asal kita mau
bertobat dan menyesal, maka Allah Maha Pengampun akan senang kalau
dimintai maaf asal sebelum nafas berada di tenggorokan (sakaratul maut).
"Tapi, kalau dengan sesama manusia, itu harus betul-betul
clear,'' tegasnya.
Silaturahmi, kata dia, sangat penting untuk rekonsiliasi sesama warga
bangsa. Namun ia menolak pemakaian istilah halal bihalal. "Benar, kata
itu berasal dari bahasa Arab, tapi di sana tidak ada istilah itu. Yang
ada ya silaturahim," ujarnya.
Menurut dia, silaturahim sangat penting sekali terutama di saat bangsa
Indonesia sedang merasakan erosi sosial. ''Kita sekarang lagi berada
dalam keadaan erosi infrastuktur sosial. Yang dibangun oleh nenek moyang
kita, kiai-kiai kita jauh sebelum lahirnya Indonesia ini, koyak. Para
kiai umat Islam sudah membangun masyarakat hidup bersama, yang muda
menghormati yang tua, yang bodoh menghormati yang pintar. Yang pintar
menyayomi yang bodoh, tatanan itu sudah terbangun. Sekarang kita sudah
kehilangan kepercayaan, '' ujarnya.
Ia
menekankan pentingnya meningkatkan kualitas silaturahmi, tak sekadar
saling mengunjungi, tapi lebih erat lagi. "Silaturahim menjadi
silatul amal wal ikhtiar
hubungan kerja. Itu bagus sekali untuk membangun
teamwork yang solid,"
ujarnya. Tahapan selanjutnya menjadi
silatul ilmi wal adab
hubungan ilmu dan teknologi serta budaya. "Terakhir,
silaturuhaniyah atau
silaturahim ruh. Seperti saling mengirim doa."
Pimpinan Pondok Pesantren Daarun-Najah Jakarta Selatan KH Shofwan Manaf
MM sependapat dengan Prof Dr Said Agil Siraj. Menurut dia, untuk
suksesnya hidup seorang manusia di muka bumi ini, ia tidak sekadar
dituntut untuk melakukan hablum
minallah (hubungan kepada Allah), tapi juga harus melakukan
hablum minannas
(hubungan sesama manusia). "Barangsiapa yang mau umurnya panjang maka
harus melakukan silaturahmi. Barangsiapa yang mau masuk surga,
sambunglah silaturahmi," ujarnya mengutip hadis.( dam )
Sumber
: Mucent |