|
Article
Aura Wajah
Harta Dan Belenggu
Infaq
Misteri Barokah
Penyakit Hati
Sedekah Membawa Musibah
Senam Awet Muda
Kisah Kisah
Bisnis Syariah
Pendeta Abraham
Mimpi Shalat
Mualaf
MuslimTionghoa
Mutiara Yang Hilang
Silaturahmi Perbanyak Rejeki
Bakti Sosial
Anak Yatim Piatu
Bencana Alam
Lansia
Pesantren
|
|
Mutiara yang Hilang
Seorang ibu dengan dua anak yang lahir
dari keluarga muslim, terjebak dalam sebuah proses pemurtadan bernama
pernikahan. Setelah waktu berlalu belasan tahun, sebuah kejutan
spiritual menyengatnya, putrinya yang duduk di kelas 2 SMP, tertangkap
basah salat di rumah !
Ayahnya yang non-muslim sejak lahir,
marah. Berbagai upaya dilakukan agar sang putri kembali kepada jalan
agama sang ayah, gagal ! Akhirnya diambil sebuah vonis, "Kamu boleh
masuk Islam, atau agama apapun yang menurutmu benar, tapi nanti setelah
usiamu sampai 18 tahun!"
Menyerah? Ternyata gadis usia belasan
tahun yang sudah berkerudung itu melawan dengan balik bertanya,
"Persoalannya Pak, apakah bapak dapat menjamin bahwa usia saya bisa
sampai ke 18 tahun? Jika bapak dapat menjamin, saya bisa mengikuti
keinginan bapak. Tapi jika bapak tidak dapat menjamin usia saya sampai
18 tahun, saya tetap dengan keyakinan saya. Islam adalah agama yang
paling benar, dan saya memutuskan Islamlah agama saya," katanya dengan
tegar.
Ketegaran putri sulungnya, membuat sang
ibu yang melahirkannya seolah mendapat kejutan listrik hebat. Anaknya
yang baru belasan tahun, yang lahir dan kemudian diajarkan agama bukan
Islam, telah begitu tegar dan kokoh dengan keyakinannya tentang
kebenaran Islam. "Mengapa aku menyia-nyiakan hidayah Allah kepadaku?
Mengapa kubiarkan diri terbelenggu dalam kebodohan dan kegelapan?"
demikian pergulatan batin sang ibu.
Dalam proses yang singkat, sang ibu pun
kembali dalam pelukan Islam lewat sebuah prosesi yang sederhana namun
khidmat. Di sebuah masjid yang agak tua, didampingi putrinya yang sudah
Islam, disenja hari ketika matahari hampir terbenam, sang ibu
mengucapkan kembali dua kalimat syahadat, sambil terisak-isak.
Sinar mentari yang keemasan, masuk
menerobos sela-sela ventilasi masjid, seolah berebut menjadi saksi untuk
melaporkan kelak kepada yang mahakuasa, tentang sebuah perjalanan
panjang yang mengharukan. Keduanya kini bergabung di Mucent.
Masuk Islam karena
Nikah
Tidak jarang orang masuk Islam karena
dipersyaratkan oleh calon pasangan hidupnya. "Saya mau menikah denganmu,
tapi kamu harus masuk Islam," itu syarat yang diterima salah seorang
muallaf di MuCent yang menceritakan awal masuk Islam.
Ya, pergaulan yang luas memungkinkan
seorang muslim/muslimah bertemu dengan tambatan hati yang bukan muslim.
Karena hati sudah merasa cocok, maka pernikahan adalah fase berikutnya.
Ketika persoalan agama muncul, maka solusinya adalah, pindah agama.
Bagaimana menyikapi mereka yang masuk
islam karena akan menikah? pembimbing kami di MuCent, K.H. Dr. Miftah
Faridl memberikan nasehat, Islam adalah hidayah yang pemberiannya
merupakan hak Allah. Melalui jalan manapun seorang masuk Islam,
hendaklah tidak dipertanyakan, yang penting dilihat adalah bagaimana
proses sebelum ikrar Islam.
Persoalan ringan dan lucu sering muncul
menyertai mereka yang masuk islam melalui jalan pernikahan. Mualaf
sering komplain tentang pasangannya yang sudah lama muslim. Karena
ternyata dalam banyak hal masih nampak ketidakkonsistenan atau masih ada
jarak antara konsep Islam dan apa yang dilakukan umat Islam.
Yang paling sering ditemukan, muallaf
jadi lebih tertib salat, labih serius belajar Islam. Sementara mereka
yang sudah lama muslim, sebagian, nampak kurang konsisten.
Masalah sesudah ikrar
Selesaikah masalah sesudah ikrar Islam?
Biasanya justru tidak. Ibu yang masuk islam karena tersengat oleh
kemusliman putrinya, menghadapi masalah, pernikahannya otomatis bubar
karena tidak mungkin dia bersuamikan seorang non muslim.
Dengan keyakinannya, dia mengusulkan
kepada suaminya agar kalaupun tempat tinggal belum pisah, setidaknya
rumah disekat permanen. Berbagai persoalan diselesaikan, perceraian
diproses.
Bagaimana sikap sang suami? Marah
besar, tidak terima. Opsi cerai baginya adalah aib. Keluarga dengan dua
anak yang lucu, satu putri dan satu putra, tidak akan dia biarkan hilang
begitu saja.
Serangan dilakukan, dengan
mempertanyakan kemungkinan hadirnya laki-laki lain yang akan segera
menggantikan perannya. Ikrar ikrar Islam dianggap hanya sebuah langkah
kamuflase untuk hal lain. Perdebatan dan pertengkaran tak terhindarkan.
Mati-matian sang isteri mengatakan bahwa tidak ada faktor "PIL" dalam
masalah ini. Semuanya murni masalah aqidah.
Alah Maha Pemurah, Maha Mendengar
jeritan hamba-hamba-Nya. Suaminya bertanya, bagaimana caranya agar
pernikahan ini tetap dapat dipertahankan ?
Aha! Isteri dan anak-anaknya berseru,
"Kita dapat tetap bersatu, asal ayah masuk Islam seperti kami,".
Subhanallah, sang ayah takluk, dia tak mau kehilangan begitu banyak
mutiara dalam hidupnya, malah dia menggenapi kebahagiaannya dengan
memilih masuk Islam.
Oleh H. BUDI PRAYITNO & Hj.
RESA K LESTARI
Sumber :
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/10/teropong/lainnya02.htm ;
Senin, 10 Mei 2004
|
Sekretariat :
Jl.
Mandar Utama DS1/5, Bintaro Jaya Sektor 3A , Tgr 15224 Telp. 021 - 926 90901 |
Al'Qu'ran
Online
Penasehat
Rockanto Djokomono
M Ferry Wong
Pembina
Nur Nira Kholifah
Titin Natalia
Tim
I
|