Selamat datang di situs

 

Home

About IMC

Konsultasi

 Article

Aura Wajah

Harta Dan Belenggu

Infaq

Misteri Barokah

Penyakit Hati

Sedekah Membawa Musibah

Senam Awet Muda

 

 

Kisah Kisah

Bisnis Syariah

Pendeta Abraham

Mimpi Shalat

Mualaf

MuslimTionghoa

Mutiara Yang Hilang

Silaturahmi Perbanyak Rejeki

 

 

Bakti Sosial

Anak Yatim Piatu

Bencana Alam

Lansia

Pesantren

 

 

 

Muslim Tionghoa di Indonesia I

 

Awal kedatangan Muslim Tionghoa di Nusantara tidak diketahui secara tepat waktunya seperti juga awal kedatangan etnis Tionghoa ke nusantara ini, kecuali dari riwayat dan bukti sejarah berupa peninggalan benda-benda arkeologis dan antropologis yang berhubungan dengan kebudayaan Cina yang ditemukan. Hal ini membuktikan bahwa hubungan dagang antara negeri Cina dengan Nusantara sudah terjadi sebelum masehi.

 

Sebagai agama, Islam masuk dan berkembang di negeri Cina, melalui jalur perdagangan. Begitu pula Islam masuk ke Nusantara. Kebanyakan sarjana berpendapat bahwa peristiwa masuknya agama Islam ke Cina, terjadi pada pertengahan abad VII. Saat itu kekhalifahan Islam yang berada di bawah kepemimpinan Utsman bin Affan (557-656M) telah mengirim utusannya yang pertama ke Cina, pada tahun 651 M. Ketika menghadap kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang, utusan Khalifah tersebut memperkenalkan keadaan negerinya beserta Islam. Sejak itu mulai tersebarlah Islam di Cina.


Islam masuk ke Cina melalui daratan dan lautan. Perjalanan darat dari tanah Arab sampai kebagian barat laut Cina dengan melalui Persia dan Afghanistan. Jalan ini terkenal dengan nama “jalur sutra”. Sedangkan perjalanan laut melalui Teluk Persia dan Laut Arab sampai ke pelabuhan-pelabuhan Cina seperti Guangzhou, Quanzhou, Hangzhou, dan Yangshou dengan melalui Teluk Benggala, Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

 

Muslim Tionghoa di Nusantara ada yang berasal dari imigram Muslim asal Cina lalu menetap di Nusantara. Ada pula yang memeluk Islam karena interaksi antar etnis Tionghoa yang sudah ada di Nusantara dengan mereka yang beragama Islam. Kedatangan imigran Musim Tionghoa ke Nusantara, sebelum dan pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, secara individu-individu. Kedatangan etnis Tionghoa ke Nusantara dari negeri Cina sebagian besar dengan cara kolektif (rombongan) beserta keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah non Muslim. Mereka juga hidup terpisah dari penduduk setempat dan tinggal di Pecinan, terutama di masa kolonial.


Kedatangan etnis Tionghoa dan Muslim Tionghoa dari negeri Cina ke Nusantara, tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi mereka, bukan tujuan menyampaikan Islam atau berdakwah. Pada umumnya mereka berasal dari daerah-daerah Zhangzhou, Quanzhou dan provinsi Guangdong. Tapi di zaman pemerintah Belanda pernah mendatangkan etnis Tionghoa ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan dan pertambangan milik Belanda.

 

Meski kedatangan etnis Tionghoa Muslim tidak untuk berdakwah, namun keberadaan mereka punya dampak dalam perkembangan dakwah. Salah satunya karena proses asimilasi, perkawinan dengan penduduk setempat yang kemudian menjadi Muslim.

 

Demikian pula dengan muhibah pelayaran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Nusantara, pada abad ke XV. Latar belakang muhibah ini adalah perdagangan dan bermaksud mempererat hubungan antara negara Cina dan Negara-negara Asia Afrika. Banyak dari anggota muhibah dan anak buah Laksamana Zheng He adalah Muslim, seperti Ma Huan, Guo Chong Li dan Ha San Sh’ban dan Pu He-ri. Ma Huan dan Guo Chong-li pandai berbahasa Arab dan Persia. Keduanya bekerja sebagai penerjemah. Ha San adalah seorang ulama Masjid Yang Shi di kota Ki An. Maka tidaklah aneh pada daerah-daerah yang disinggahi oleh muhibah tersebut penduduknya banyak yang beragama Islam.

 

Pulau, daerah atau kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dikunjungi oleh 7 (tujuh) kali muhibah Laksamana Zheng He dari tahun 1425 sampai tahun 1431 M adalah Jawa, Palembang, Pasai (Aceh), Lamuri, Nakur (Batak), Lide, Aru Tamiang, Pulau Bras, Pilau Lingga, Kalimantan, Pulau Karimata, Pulau Beliton dll.

 

Dari Catatan MA Huan, anggota muhibah pelayaran Laksaman Zheng He, bahwa pada pertengahan abad XV, di kerajaan Majapahit terdapat perantau Cina Muslim yang berasal dari Zhanghou, Quanzhou dan Provinsi Guangdong.


Dari beberapa sumber seperti dalam Seminar “Masuk dan Berkembangnya Islam Di Indonesia” yang diselenggarakan di Banda Aceh pada September 1980 dan buku-buku antara lain “Islam Di Jawa” , “Islamisasi Di Jawa”, Walisanga Menyebar Islam menurut Babad “Legenda dan Sejarah Lengkap Walisongo”, beberapa wali di antara Walisanga ada beberapa yang mengalir darah Tionghoa.


Dari riwayat tersebut, Muslim Tionghoa di Nusantara Sudah terbaur dengan penduduk setempat. Tetapi ketika Kolonial Belanda menginjakkan kakinya di Nusantara dan sesuai dengan politik pecah belah(devide et impera) mereka membagi penduduk menjadi tiga golongan. Etnis Tionghoa termasuk golongan Timur Asing dan pribumi Inlander yang mayoritas beragama Islam diberi fasilitas tertentu dan sistem politiknya pun dibedakan dengan golongan pribumi. Hal ini membuat etnis Tionghoa menjadi terpisah dengan penduduk setempat.


Kelompok-kelompok masyarakat etnis Tionghoa di pimpin oleh Kapten, Mayor Tionghoa, yang pada umumnya dari kalangan non-Muslim. Dari data yang ada, Kapiten Cina Muslim terakhir, pada pertengahan abad XVII, bernama Caitson, berganti nama menjadi Abdul Gafur, diangkat menjadi Syahbandar Banten.

 

Berdasarkan peraturan kolonial Belanda, mereka yang mengikuti tradisi, adat istiadat suatu golongan menjadi golongan tesebut. Islam mengantar etnis Tionghoa melebur dan menjadi bagian pribumi. Hal ini berbeda dengan etnis Tionghoa non-Muslim yang kian terpisah dengan pribumi, seperti air dan minyak.

 

Pada masa gerakan kemerdekaan, Muslim Tionghoa ikut pula berperan. Salah satu perannya adalah menjadi peserta dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

 

Pada perkembangannya, jarak yang muncul dengan etnis Tionghoa mengundang beberapa Muslim Tionghoa untuk memperbaiki kerenggangan tersebut. Salah satunya adalah Haji Yap Siong yang berasal dari kota Moyen, Cina. Setelah belajar Islam ia menjadi Muslim pada tahun 1931 dan mendirikan organisasi dakwah yang diberi nama Persatuan Islam Tionghoa (PIT) di kota Deli Serdang, Sumatera Utara. Dakwah beliau dimulai dari Sumatera Utara ke Sumatera Selatan dan menyeberang ke Jawa Barat sampai Jawa Timur. Berdakwah dalam bahasa Mandarin dan memperoleh izin dakwah pada waktu itu dari pejabat-pejabat Kolonial Belanda.


Pada tahun 1950 bersama Haji Abdul Karim Oei Tjing Hien, kelahiran Bengkulu yang pada tahun 1930 telah menjadi Konsul Muhamadiyah untuk daerah Sumatera Selatan. Keduanya bertemu di Jakarta dan mengembangkan PIT. Pada tahun 1953, Kho Guan Tjin mendirikan organisasi dakwah pula dengan nama Persatuan MUslim Tionghoa (PMT), di Jakarta. Pada tahun 1954, kedua Organisasi dakwah itu difusikan. Namun perjalanannya, organisasi ini bubar karena berbeda pandangan menjelang pemilihan umum pertama tahun 1955.

 

Pada tanggal 14 April 1961, di Jakarta, atas prakarsa H. Isa Idris, dari pusat Rohani TNI AD, lahirlah PITI. Sebuah nama dengan kepanjangan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Tujuan PITI adalah mempersatukan antara Muslim Tionghoa dan Muslim Imdonesia, Muslim Tionghoa dengan Etnis Tionghoa dan etnis Tionghoa dengaan Indonesia Asli.


Pada awal tahun 1972, Kejaksaan Agung RI dengan alasan bahwa agama Islam adalah agama universal, menganggap PITI tidak selayaknya ada. Tidak ada Islam Tionghoa atau Islam-Islam lainnya. Maka pada tanggal 15 Desember 1972, Dewan Pimpinan Pusat PITI memutuskan untuk melakukan perubahan organisasi menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.

Demikian Kiprah Muslim Tionghoa sejak kedatangannya di Nusantara sampai saat ini di segala bidang kehidupan sesuai dengan profesinya.

 

 

Muslim Tionghoa di Indonesia II

 

Sewaktu lahir pada 14 April 1961 di Jakarta, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, tetapi kemudian diubah menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Karena keluar instruksi dari pemerintah (14 Desember 1972) yang menekankan agar organisasi ini tidak berciri etnis tertentu, walaupun PITI tetap merupakan wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim.

 

Kemudian PITI kembali menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ditetapkan dalam rapat pimpinan organisasi pada pertengahan Mei 2000. Dengan demikian, dapat dikatakan PITI saat ini kembali ke Khittah (garis perjuangan) semula, yakni organisasi yang tegas menyebut diri sebagai wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim. Tujuannya adalah mengembangkan dakwah di kalangan orang-orang Tionghoa, baik yang sudah menjadi muslim maupun yang belum. Yang sudah muslim ditingkatkan pengetahuan dan pengamalan Islamnya, sedang yang belum muslim diberi penjelasan tentang Islam.

 

Namun dalam muktamar tahun 2000 di Jakarta, terjadi perdebatan di antara peserta mengenai kepanjangan PITI, apakah kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ataukah Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Sebagian peserta menghendaki kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, karena itulah nama organisasi ini sewaktu didirikan dan ingin kembali berkiprah untuk komunitas Tionghoa muslim khususnya. Sebagian lainnya ingin mempertahankan Persatuan Iman Tauhid Indonesia, karena organisasi ini harus terbuka bagi semua orang Islam, walaupun mengutamakan keturunan Tionghoa Muslim.

 

Untuk menyelesaikan perdebatan itu, maka disepakati untuk menggunakan kedua kepanjangan itu bagi PITI, sehingga kepanjangannya menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Keputusan itu diambil, karena para peserta sepakat bahwa PITI mengutamakan Tionghoa, tetapi terbuka bagi pribumi muslim.

 

Sejak semula PITI yang didirikan oleh H. Abdul Karim Oey Tjeng Hien, H. Abdusomad Yap A. Siong, Kho Goan Tjin, dan kawan-kawan, dimaksudkan sebagai organisasi dakwah untuk membantu orang-orang Tionghoa yang ingin masuk Islam, mempelajari Islam, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan sosial.

 

Menurut penelitian-penelitian yang pernah dilakukan belum ada data yang pasti mengenai jumlah penduduk Tionghoa Muslim di Indonesia, tetapi pimpinan PITI memperkirakan jumlah penduduk Tionghoa ada 10 juta orang, sedang seorang ahli Cina dari Universitas Indonesia, A. Dahana mencatat 7.200.000 orang, dan seorang peneliti masalah Cina dari Universitas Nasional Singapura menduga ada 5.700.000 orang Tionghoa.

 

Dari jumlah itu orang Tionghoa Muslim menurut pimpinan PITI mencapai 5 (lima) persen, seorang pemerhati tentang Tionghoa muslim HM. Ali Karim memperkirakan Tionghoa Muslim hanya 2 (dua) persen, dan seorang tokoh Tionghoa Muslim yang sangat terkenal yaitu Drs. H. Junus Jahya menduga penduduk Tionghoa Muslim hanya sekitar 1 (satu) persen dari total penduduk Tionghoa di Indonesia. Angka manapun yang diikuti, baik yang mengatakan 5 (lima) persen, apalagi yang menduga hanya 1 (satu) persen, penduduk Tonghoa Muslim memang masih sangat sedikit, sehingga dakwah di kalangan mereka terasa sangat perlu dan mendesak. Tetapi dakwah di kalangan mereka tidak dimaksudkan untuk mengajak masuk Islam, tetapi terutama adalah meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang Islam. Misalnya karena banyak penduduk pribumi muslim yang miskin dan kurang terdidik, maka timbul persepsi yang salah dikalangan orang-orang Tionghoa seolah-olah kalau masuk Islam akan membuat mereka miskin dan bodoh. Kesalahpahaman ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang Tionghoa enggan masuk Islam selama ini.

 

Karena itu, perlu dijelaskan bahwa Islam tidak menghendaki penganutnya miskin dan bodoh. Islam malah mengharuskan pemeluknya untuk mencari harta yang sebanyak-banyaknya asal caranya halal dan mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu pengetahuan setinggi-tingginya di bidang apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat dan menuntut ilmu pengetahuan boleh dimana saja. Ada sebuah hadist yang sangat populer: “tuntutlah ilmu walau di negeri Cina.”

 

Pengertian itulah yang perlu disampaikan kepada orang-orang Tionghoa. Setelah mereka mengerti hal itu lalu mereka masuk Islam atau tidak itu sepenuhnya terserah mereka. Sebab masuk suatu agama, termasuk Islam, tidak boleh dipaksa, tetapi harus didasarkan atas keimanan dan kesadaran pribadi agar dapat menerima dan mengamalkam Islam dengan ikhlas.

 

Faktor lain yang menyebabkan PITI bertambah penting peranannya saat ini adalah terjadinya perubahan politik, yakni runtuhnya Orde Baru dan munculnya era reformasi. Perubahan politik ini mendorong terjadinya perubahan sikap orang-orang Tionghoa ke arah yang terbuka kepada orang-orang pribumi, yang kemudian mereka terdorong masuk Islam, karena mayoritas golongan pribumi itu muslim.

 

Pada masa Orde Baru banyak orang Tionghoa bersikap eksklusif, karena bisnis mereka maju dengan pesat berkat fasilitas dari pemerintah, sehingga mereka merasa untuk berbisnis tidak terlalu mendesak bekerjasama dengan golongan pribumi. Kalau kerjasama dengan pribumi biasanya mereka lakukan dengan oknum-oknum pemerintah dan orang-orang yang dekat penguasa.

 

Dengan demikian, hidup mereka cenderung eksklusif, sehingga kurang mendapat dorongan masuk Islam, kecuali mereka hatinya mendapat hidayah dari Allah atau menikah dengan pribumi muslim. Namun dengan runtuhnya Orde Baru dan diganti oleh era reformasi yang diharapkan memberi kesempatan yang sama kepada golongan pribumi dan nonpribumi dalam berusaha, maka orang-orang Tionghoa tidak bisa lagi berlindung pada kekuasaan. Akibatnya orang-orang Tionghoa harus lebih banyak berinteraksi dan bekerjasama dengan golongan pribumi. Interaksi dan kerjasama yang semakin luas bisa menjadi salah satu dorongan kuat bagi orang-orang Tionghoa untuk masuk Islam.

 

Karena itu, bisa diduga bahwa pada era reformasi ini akan banyak orang-orang Tionghoa masuk Islam. Untuk mengantisipasi perkembangan ini, maka PITI harus tegas menyebut diri sebagai organisasi Tionghoa agar mudah dikenali oleh orang-orang Tionghoa yang hendak masuk Islam.

 

Sumber  : Mucent

Sekretariat :

Jl. Mandar Utama DS1/5, Bintaro Jaya Sektor 3A , Tgr 15224 Telp. 021 - 926 90901

Al'Qu'ran Online

 

Penasehat

Rockanto Djokomono

M Ferry Wong

 

Pembina

Nur Nira Kholifah

Titin Natalia

 

Tim

I

 


 

© 2007 @ PondokIMC   ;  email : info@persadaindo.com   ;   ferrywongg@yahoo.com ( YM )