|
|
Angkatan 1
Angkatan 2
Angkatan |
|
Elektro TCM
Moksa
Jarum
Kop TCM
TDP
|
|
|
PERLU KEHATI-HATIAN
MENEGAKKAN DIAGNOSA AUTISME
Dari Ceramah Prof Buitelaar
Menegakkan diagnosa autisme sesungguhnya tidak mudah , perlu kehati hatian
yang tinggi. Demikian yang dipesankan oleh JK Buitelaar, seorang professor
psikiatri anak dari Universitas Nijmegen Negeri Belanda dalam suatu
kesempatan ceramah tunggalnya selama dua hari tanggal 28-29 Januari 2006
yang lalu di Jogjakarta . Selanjutnya , menurut ahli autis kaliber dunia
yang sengaja didatangkan oleh Sekolah Lanjutan Autisme Fredofios dibantu
oleh Terres Des Homes Nederland ini , mengatakan bahwa kehati-hatian itu
sangat diperlukan karena dari hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga
autisme di negaranya menunjukkan bahwa dengan menggunakan alat deteksi
autisme yang kini sudah populer di dunia yang disebut CHAT bila digunakan
untuk anak di bawah 18 bulan dan DSM IV bila digunakan untuk anak di bawah
tiga tahun , penggunaan kedua alat deteksi ini akan menunjukkan kesalahan
yang sangat tinggi. Kesalahan akan terjadi terutama terhadap anak-anak
bergangguan perkembangan lain bukan autisme seperti anak-anak penyandang
cacat inteligensia ( mental retarded ) dan anak-anak yang terlambat bicara
yang juga dengan sendirinya akan mengalami gangguan sosial sebagaimana
autisme.
Apa yang ditelitinya itu juga gambarannya tidak banyak berbeda dengan di
Negara-negara lain. Karena itu ia bersama dengan timnya tengah mempersiapkan
alat deteksi autisme yang baru, yang kelak bisa lebih menyempurnakan deteksi
dini autisme yang sudah ada . Untuk menghindari kekeliruan deteksi ini, maka
diperlukan sekali pemeriksaan secara multidisiplin yaitu dilakukan oleh
dokter, psikolog, dan orthopedagog yang sudah terlatih dan ahli. Hal ini
disebabkan karena autisme adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek
perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu
perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi sosial, dan perilaku repetitif.
Karena gambaran autisme begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan
senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnosa tidak bisa begitu
saja, sebab bisa saja kemudian diagnosa menjadi berubah-ubah dari waktu ke
waktu. Setelah dilakukan berbagai observasi secara berkala oleh berbagai
profesi tadi, disamping juga dilakukan tes psikologi, dan pemeriksaan fisik
secara menyeluruh barulah diagnosa itu boleh ditegakkan. Penegakan diagnosa
ini seringkali juga memerlukan waktu yang panjang, enam bulan hingga satu
tahun. Namun yang terpenting menurutnya adalah
bukan penegakan diagnosa itu tetapi bagaimana kita mampu melihat berbagai
gangguan sebagai faktor lemah yang dimilikinya, dan faktor kuatnya. Untuk
anak di bawah tiga tahun menurutnya pula sebaiknya jangan mengunakan DSM IV,
dan CHAT jangan digunakan juga untuk anak di bawah usia 18 bulan.
Buitelaar juga memperagakan bagaimana mendeteksi dini berbagai gejala
autisme melalui alat deteksi yang bersama timnya tengah disusunnya dalam
sebuah proyek yang disebut Project SOSO. Alat deteksi dini autisme yang baru
ini bernama ESAT (Early Screening Autism Traits), ia memperagakannya dengan
menunjukkan film yang sangat menarik. Ia juga memperlihatkan bahwa anak usia
di bawah tiga tahun seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan
penyandang autisme, atau sebaliknya gejala yang ada pada anak
autisme sering juga ditunjukkan oleh anak-anak yang mempunyai gangguan
perkembangan lainnya. Karena itu disinilah para dokter dan psikolog harus
benar-benar mampu mengamati dengan baik. Orang tua diminta untuk dapat
mengungkapkan dengan baik bagaimana perilaku anaknya tersebut dengan
berpatokan pada gejala-gejala yang ditampilkan oleh anak-anak normal,
sehingga dapat diketahui bagaimana penyimpangan yang terjadi. Setidaknya
perlu adanya pengamatan berkala setiap tiga bulan, dilakukan evaluasi guna
menentukan tindakan apa yang perlu kita perbaharui.
Kelanjutan penyusunan deteksi dini (ESAT) ini adalah, Project SOSO -nya
tengah membangun suatu model untuk memberikan intervensi dini yang sesuai
dengan keunikan yang disandang oleh setiap anak autisme. Hasil Project SOSO
kali ini dinamakan DIANE (Diagnostic Intervention Autism Nederland).
Sehingga Project SOSO yang tengah dikembangkannya ini kelak, akan
menghasilkan suatu model dalam bentuk tatalaksana screening atau deteksi
dini autisme di usia 24 bulan, penegakan diagnosa di atas usia 36 bulan, dan
melakukan
indentifikasi keunikan setiap anak autisme, memberikan panduan dan training
intervensi kepada setiap orang tua.
Akan halnya tentang penyebab autisme sampai saat ini menurutnya masih belum
bisa diketahui. Namun, banyak sekali publikasi di masyarakat yang justru
datang dari fihak-fihak yang tidak didasarkan oleh penelitian ilmiah,
seperti yang banyak ditanyakan oleh para peserta. Misalnya penyebab autisme
karena thimerosal dalam vaksin, virus vaksin, keracunan logam berat, alergi
terutama gluten dan casein, sistem imun tubuh, dan sebagainya. Sementara itu
para ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang autisme menyatakan bahwa
kemungkinan besar penyebab autisme adalah faktor kecendrungan yang dibawa
oleh genetik. Sekalipun begitu sampai saat ini kromosom mana yang membawa
sifat autisme belum dapat diketahui. Sebab pada anak-
anak yang mempunyai kondisi kromosom yang sama akan bisa juga memberikan
gambaran gangguan yang berbeda. Namun para ahli lebih cenderung akan
menyatakan bahwa penyebab autisme kemungkinan besar
adalah faktor gen yang membawa peranan, hal ini disimpulkan dari hasil
penelitian terhadap kembar satu telur yang akan menunjukkan kemungkinan
terjadinya gangguan autisme yang lebih tinggi secara siknifikan bila
dibandingkan dengan kembar dua telur. Autisme adalah gangguan atau kecacatan
yang akan disandang oleh individu tersebut seumur hidupnya.
Di kalangan luas juga ada publikasi yang mengatakan bahwa autisme dapat
disebabkan berbagai gangguan di tiga bulan pertama kehamilan. Menurut
Buitelaar hal ini juga masih belum bisa dikatakan apakah benar demikian,
karena penelitiannya belum selesai,dan hasilnya belum ada.
Pertanyaan tentang berbagai pengobatan autisme saat ini yang banyak
digunakan bahkan seringkali juga atas anjuran dokter (yang bergerak dalam
terapi alternatif), misalnya detoksifikasi untuk menghilangkan racun di
otak, diet bebas gluten dan casein, probiotik, megadosis vitamin, hormon,
dan sebagainya, Buitelaar menanggapi bahwa karena hingga kini penyebab
autisme belum bisa dipahami secara pasti maka para dokter juga belum bisa
mentukan obatnya. Ia menyarankan agar para orang tua tak perlu terkesima
dengan reklame komersial yang menyatakan bahwa autisme dapat diobati, sebab
menurutnya selain pengobatan model intervensi biologis itu sangat mahal,
tidak ada efeknya, juga cukup berbahaya bagi si anak sendiri. Bila dokter
memberikan resep obat-obatan psikostimulan, hal itu bukan untuk menyembuhkan
autisme, tetapi hanya sekedar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya.
Yang terpenting pesannya adalah bagaimana kita
harus menanganinya dengan cara melihat faktor lemah dan faktor kuatnya
dengan pendekatan psikologi dan pedagogi, yaitu arahkan perilakunya,
tingkatkan kecerdasannya, latih kemandirian, ajarkan kerjasama, dan ajarkan
bersosisalisasi. Ia juga menganjurkan jangan berikan obat-obatan psikiatrik
atau psikostimulan kepada anak-anak di bawah 6 tahun. Utamakan pendekatan
psikologi dan pedagogi, jika cara-cara ini sudah tidak dimungkinkan barulah
bisa diberikan obat- obatan. Para orang tua juga berhak menanyakan apa efek
samping dan harapan apa yang bisa dicapai dengan menggunakan psikostimulan
itu.Karena bagaimanapun reaksi setiap anak terhadap obat akan berbeda-beda,
sehingga diperlukan pemantauan yang baik secara rutin. Disamping itu sampai
saat ini belum ada penelitian obat-obatan pada anak dibawah usia 6
tahun,sehingga kita masih belum tahu efek jangka panjangnya
GEJALA AWAL AUTISME
Masih ingat atau masih mengalami saat anak kita tengah belajar bicara di
usianya yang ke satu atau satu setengah tahun? Ia akan menyebutkan apa yang
dilihatnya dengan cara menunjukkan ke satu objek dan menyebutkan nama objek
itu. Cara-cara ini disebut sebagai Joint Attention ( bersama-sama
memperhatikan ). Pada anak normal caranya adalah, mula-mula ia akan melihat
wajah ibu atau pengasuhnya dan kemudian diteruskan dengan kontak mata,
dengan maksud menarik perhatian ibu atau pengasuhnya agar bersama-sama
memperhatikan sesuatu yang menjadi perhatiannya, kemudian ia menunjuk dengan
tangan dan jari-jarinya ke sesuatu yang menjadi perhatiannya itu. Ini
adalah suatu awal perkembangan dari komunikasi timbal balik yang
membutuhkan suatu interaksi emosional yang sehat. Namun tidak demikian
halnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme. Pada
fase ini ia mengalami kegagalan perkembangan. Umumnya anak-anak autisme
tidak melakukan fase dimana ia mencoba membangun kontak komunikasi melalui
kontak mata. Ini adalah patron yang khas dari anak penyandang autisme.
Namun, menurut Buitelaar, kita juga harus berhati-hati. Tentang ketidak
adaan kontak mata ini jangan dijadikan sebagai butir diagnosa, sebab banyak
juga anak normal yang tidak melakukan kontak mata saat berinteraksi. Ada
juga yang hanya sekilas melakukan kontak mata, baginya sudah cukup. Jadi
jangan menghitung berapa lama ia mampu
membangun kontak mata, sebab banyak anak normal juga melakukan kontak mata
hanya sekilas. Artinya yang harus diperhatikan adalah kualitas dari kontak
mata itu. Sebaliknya juga banyak anak-anak autisme yang bisa lama melakukan
kontak mata tetapi kualitasnya sangat rendah. Ia memandang mata orang di
hadapannya namun tidak bisa membangun kontak secara emosional.
Kegagalan membangun kontak emosional inilah yang menyebabkan perkembangan
bicara juga menjadi terganggu dan akhirnya akan menyebabkan gangguan
perkembangan bersosialisasi. Karena itu, dijelaskan oleh Buitelaar bahwa
dalam penegakan diagnosa autisme perkembangan kemampuan bicara dan bahasa
menjadi salah satu butir yang penting. Tetapi kita juga harus berhati-hati,
sebab anak-anak yang tidak bisa bicara atau mengalami keterlambatan bicara,
belum tentu ia adalah penyandang autisme. Dalam hal ini yang harus
diperhatikan adalah kemampuan berbahasa non-verbalnya. Pada anak-anak
autisme selain ia mengalami gangguan komunikasi secara verbal, ia juga
mengalami gangguan komunikasi nonverbal.
Komunikasi nonverbal adalah suatu komunikasi tanpa menggunakan kata-kata.
Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi dengan cara membaca bahasa
simbolik dan bahasa mimik. Pada anak autisme yang mengalami kegagalan
perkembangan membangun kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia
mengalami kegagalan membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya
adalah komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain. Ketidakmampuan
membaca emosi orang lain dalam bentuk ekspresi muka orang lain inilah yang
kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu mengekspresikan
wajahnya. Ia adalah
anak yang tidak berekspresi, tidak mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang
atau marah. Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang
mengalami kesalahan dalam mengekspresikan perasaannya, atau ekspresinya
tidak pada tempatnya. Padahal komunikasi nonverbal ini merupakan bentuk
komukasi yang lebih banyak digunakan oleh kita sehari-hari, dalam membangun
hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, sebagian besar komunikasi
adalah berbentuk komunikasi non verbal. Dengan sendirinya kegagalan
komunikasi nonverbal ini akan pula menyebabkan ia mengalami gangguan
bersosialisasi, atau membangun hubungan sosial dengan orang-orang di
sekitarnya.
Pada sebuah tes dengan anak autis yang lebih besar, di atas lima tahun,
seringkali ia juga mengalami kegagalan membaca jalan fikiran orang, dan
merasakan perasaan orang lain. Hal ini oleh Buitelaar ditunjukkan dengan
suatu demonstrasi The Theory of Minds, yaitu dengan permainan yang disebut
Sally and Anne. Ia memberikan contoh, ada seorang anak autisme dengan usia
lebih dari 5 tahun, diberi permainan dua figur boneka bernama Sally dan
Anne. Sally mempunyai sebuah keranjang, dan Anne mempunyai sebuah kotak.
Anne mempunyai sebuah kelereng dikotaknya. Waktu Anne keluar, oleh Sally
kelereng itu dipindahkan ke keranjang. Lalu anak berusia lebih dari 5 tahun
tadi ditanya, kalau Anne datang, Anne akan berfikir bagaimana? Pada anak
normal, ia akan menjawab, bahwa pasti Anne berfikir bahwa kelerengnya masih
berada di tempatnya semula yaitu di dalam kotak. Tetapi anak autisme akan
menjawab bahwa kelerengnya berada di dalam keranjang. Anak autisme ini tidak
mengerti apa yang akan difikirkan oleh orang lain. Namun pola autisme yang
seperti ini bukanlah juga sebagai butir untuk menegakkan diagnosa, sebab
banyak pula anak normal di atas usia lima tahun masih belum bisa membaca
jalan fikiran orang lain.
Demonstrasi tadi menunjukkan bahwa bagaimana cara berfikir seorang anak
autisme, bahwa ia hanya mampu memakna kejadian-kejadian tersebut secara
harafiah. Ia juga mengalami kegagalan dalam pengembangan bentuk fantasi dan
imajinasi. Sehingga segalanya menjadi kaku atau rigid dan tidak fleksibel.
Pada anak-anak autisme ini juga mengalami kegagalan dalam melakukan memakna
hubungan kejadian yang satu dengan yang lainnya. Jadi seringkali ia mampu
mengumpulkan banyak informasi secara detil tetapi tidak mengerti apa fungsi
setiap detilnya, dan konteksnya secara global. Karena kegagalan berbagai
perkembangan dalam melakukan kontak dengan orang lain ini, ia juga akan
bereaksi berbeda dari pada anak-anak normal lainnya.
Anak-anak ini juga sangat sulit menerima perubahan, sangat rigid, dengan
ritual-ritual yang sulit dirubah. Kepada anak-anak ini perlu diajarkan
bagaimana berperilaku fleksibel.
ANAK AUTISME ADALAH
PENGUMPUL DATA
Ceramah sepanjang dua hari yang diberikan oleh Prof Buitelaar itu juga
menyinggung bagaimana seorang anak autisme dalam mengembangkan
inteligensianya. Inteligensia anak-anak kelompok autisme sebetulnya cukup
beragam, mulai dari yang mental retarded hingga yang mempunyai inteligensia
tinggi. Namun yang menarik disini adalah sekalipun anak itu merupakan anak
autisme dengan IQ yang tidak tinggi sekalipun, ada yang mampu mengumpulkan
informasi atau data sangat luar biasa. Misalnya ia mampu menyebutkan
nama-nama burung hingga ratusan. Ia mampu membedakan dan menyebutkan setiap
nama burung itu. Namun tidak lebih dari itu saja.
Pada anak autisme yang mempunyai inteligensia tinggi, biasa disebut sebagai
Asperger. Kelompok ini adalah kelompok autisme yang mempunyai perkembangan
fungsi yang tinggi yang kemudian disebut High Function. Nama Asperger
sendiri diambil dari nama seorang dokter anak Hans Asperger dari Austria,
adalah yang pertama kali mengemukakan kasus autisme ini. Kelompok ini memang
mempunyai gangguan berbahasa, tetapi tidak mengalami gangguan perkembangan
bicara. Perkembangan bicaranya sesuai dengan jadwal, atau dengan kata lain
tidak mengalami keterlambatan bicara. Sekalipun tidak terlambat bicara,
berbahasanya sangat kaku. Anak-anak Asperger ini saat kecilnya sering
disangka anak berbakat (gifted children),namun ternyata apa yang dikuasai
lebih menjurus pada kemampuan meregistrasi atau pengumpul data, sehingga
tidak bisa dikelompokkan sebagai anak berbakat. Kelompok Asperger ini
seringkali justru sangat terlambat terdeteksi, karena selain ia mempunyai
inteligensia yang baik, juga tidak mengalami keterlambtan bicara.
Inteligensianya
sering menutupi kekurangannya. Buitelaar mengakui cukup sulit membedakan
anak-anak berbakat (gifted children) yang mempunyai inteligensia sangat
tinggi namun mengalami gangguan bersosialisasi sebagaimana halnya dengan
kelompok Asperger.
Gangguan bersosialisasi pada anak-anak berbakat (gifted children) menurut
Buitelaar lagi, lebih banyak disebabkan karena bahasa yang dikuasai
anak-anak berbakat sangat berbeda dengan anak-anak lainnya,
atau teman sepermainannya. Seringkali anak-anak normal, teman sepermainannya
tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anak-anak berbakat (gifted) ini.
Sekalipun antara anak berbakat (gifted children) dan kelompok Asperger
mempunyai kesamaan berkemampuan mengumpulkan pengetahuan yang luar biasa,
namun tetap Asperger sebagai kelompok autisme, adalah individu yang
mengalami kegagalan dalam melihat konteks dan hubungan antar data dalam
pengetahuan tersebut. Ia memberikan contoh, andaikan ada dua anak yang satu
adalah Asperger dan yang satu adalah anak berbakat (gifted child), mereka
mempunyai minatan yang sama pada misalnya berbagai macam dinosaurus. Anak
autisme hanya akan mengumpulkan data tentang berbagai macam dinosaurus,
tentang kehidupannya, namun tak mampu menganalisa hubungan dinosaurus dengan
kehidupan ini dimana justru kemampuan ini dimiliki oleh anak-anak berbakat
(gifted child).
Anak autisme juga hanya mempunyai bidang minatan yang sangat sempit, berbeda
dengan anak-anak normal, ataupun anak-anak berbakat (gifted) dimana bisa
mempunyai bidang minatan yang luas. Buitelaar mencotohkan pada pasiennya
yang setiap datang hanya menceritakan tentang mesin cucinya.
Perkembangan fantasi dan imajinasi anak-anak autisme juga sangat kurang.
Sehingga andaikan anak ini diajak bermain fantasi ia tidak akan bisa. Ia
hanya mampu melakukan suatu kegiatan yang tidak menggunakan fantasi dan
imajinasinya.Andaikan ia memperhatikan satu benda, misalnya sebuah
mobil-mobilan ia hanya akan meperhatikan satu bagian saja, dan tak bisa
memainkan mobilan itu sebagaimana anak-anak lainnya.
Dalam kesempatan seminar kali ini juga dipamerkan puluhan lukisan hasil
karya Osi seorang penyandang autisme berusia 18 tahun, putra dari pasangan
Ir Buggi Rustamadji,MSc yang juga direktur sekolah lanjutan atas Fredofios,
dan Ibu Soedarjati MA. Osi mampu menggambar dengan sangat baik, dengan
warna-warna yang memikat, dan sangat realis. Themanya adalah apa yang
dilihat dan dialaminya sehari-hari. Misalnya keramaian di kota, tempat
menjemur baju, di restorant, saudara-saudaranya, ayah dan ibunya. Teman Osi
,Opik adalah sesama penyandang autisme juga memamerkan karya-karya, tak
kalah dengan karya Osi yang puluhan banyaknya. Namun yang menarik dari kedua
pelukis penyandang autisme ini adalah, karya lukisannya bagai sebuah suatu
laporan pandangan mata yang detil, sangat perfek, dan tanpa dibumbui oleh
suatu unsur imajinasi. Disinilah kekhususan dari perkembangan kognitif
penyandang autisme. Sekalipun di dalam gambar-
gambarnya itu juga berdiri gambar manusia, namun manusia-manusia yang
digambarkan itu adalah detil yang melengkapi apa yang dilaporkan. Bukan
sebuah karya imajinasi yang menjelaskan banyak arti. Akan berbeda misalnya
dengan karya gambar seorang anak berbakat, dimana karya-karya penuh dengan
fantasi dan imajinasi, bahkan seringkali tidak realis sama sekali.
Penutupan ceramah kali ini ditutup dengan pesan-pesan supaya kita mampu
melihat gejala autisme dengan lebih baik dan kita mampu menentukan
penanganan yang lebih tepat. Namun yang terpenting adalah kita harus
berhati-hati dalam mencari sumber bacaan, karena saat ini sumber bacaan yang
banyak dipublikasi justru datangnya dari kelompok-kelompok yang tidak bisa
dipertanggung jawabkan keilmiahannya.
Sumber :
(Julia Maria van Tiel,
pembina kelompok diskusi orang tua anak berbakat
anakberbakat@yahoogroups.com)
|
|

Komposisi
:
*
Ekstrak Ginkgobiloba 20 mg
* Ekstrak Glycin Max
100 mg
( 20 mg PUPS dan 15 mg PUPC )
Botol isi : 30's kapsul
POM TR
043 340
251 |
SoyaSerin
Manfaat :*
Memperbaiki dan meningkatkan memori.
* Pasca stroke untuk menggantikan sel syaraf otak yang rusak ,
mati dan menambah jaringan syaraf otak .
* Meningkatkan kemampuan belajar dan sosialisasi " Lansia ".
* Menjaga mood tetap stabil.
* Meningkatkan aliran darah ke otak dan memperbaiki ransangan
syaraf otak .
* Meningkatkan kadar glukosa dan pembentukan ATP
*
Menstabilkan membrane sel otak Menghambat kerja enzyme
pemecah
neurotransmitter
*
Merangsang pelepasan neurotransmitter ke dalam synapse ,
pelepasan
EDRF pada arterial endothelium
*
Mempunyai efek anti agregasi platelet
* Anti Oksidan
Cara pemakaian :
Pencegahan : 1
Kapsul sehari
Keluhan
: 3 x 1 kapsul
|
|

Komposisi
:
* Ekstrak Curcuma
Xanthoriza 5 mg
* Ekstrak Glycin
Max 200 mg
( Eggs Lecithin 50 mg , PUPS 50 mg ,
PUPC 100 mg )
Botol isi : 30's kapsul
POM TR
053 343 811 |
SoyaKid
Manfaat :
* Sel Neuron Otak
* Sel Mata
* Sistem Kekebalan tubuh
* Sistem sirkulasi darah
* Organ - organ lain .
Cara pemakaian :
Ibu Hamil : 3 x 1 kapsul
Anak - anak : 2 x 1 kapsul |
|

Komposisi
:
*
Ekstrak Grape Seed 100 mg
* Ekstrak Soyabean 100 mg
Dus isi : 60's kapsul
POM TR
033 324
701 |
Prosianidin
Manfaat :
* Anti oksidan
* Anti Aging
* Membantu menurunkan kadar kolesterol
*
Melancarkan peredaran
darah terutama Pembuluh Arteri dan
Vena
* Memperbaiki sirkulasi
darah dengan meningkatkan elastisitas
pembuluh
darah, mancegah terjadinya perlengketan darah ( anti
platelet
agregasi ) dan menormalkan viscositas darah
* Menormalkan
permeabilitas kapiler
* Mempercepat hilangnya
oedema
Cara pemakaian :
3
x 1 kapsul
|
|
|
Banjarmasin
Balikpapan
Palangkaraya
Pontianak
Samarinda
Singkawang |
|
Aceh
Bandar Lampung
Jambi
Medan
Padang
Palembang
Pekanbaru
Pematang Siantar |
|